Common Room, Jendela Ide
Bandung, ID
July 2004

Introduction of Tanabata
Common Room, 3 July 2004
Story Telling “Kabutori Jisan”
by Janus Manobu Ono (10 year old)
Origami Workshop
Jendela Ide, 4 July 2004
Participants:
Angga | Dhanika | Susanna | Ayu | Lidya | Yuni Yuniati | Asni | Rugun | Imsa | Ami | Dhini | Yanti | Ayla | Rina | Dini | Gilang | Cynthia | Laina Rafianti | Agita Nurfianti | Bintang | Andreas | Nathanael | Hasan | Zhafran | Adi | Adya
Facilitator:
Mizuho Matsunaga
Prilla Tania
Detzi Patricia Jovanca
Niken Anggrahini
Project Officer:
Mizuho Matsunaga
Emakimono Workshop
Jendela Ide, 5-7 July 2004
Gryfindor Group
Imsa | Zhafran | Hasan | Asni
Judul: “A Plane & Rocket”
RavenClaw Group
Rugun | Mika | Nesya | Diptia
Judul: “Sorcerer’s School Jendela Ide”
Mighty Monkey Group
Gilang | Andreas | Adi | Bintang | Nathanael
Judul: “The Battle of the Dragon and the Devil”
Facilitator:
Mirna Adzania
Ardea Rema Sikar
Deni Rachman
Arief Ash Shiddiq
Project Officer:
Marintan Sirait
Music Workshop
Jendela Ide, 4-7 July 2004
Participants:
Ayla | Nathanael | Adya | Adi | Bintang | Andreas | Raisya | Diptia | Mika | Nesya
Facilitator:
Tomoko Momiyama
Arief Ash Shiddiq
“My Neighbour Tanabata Song”
Composed by: Tomoko Momiya
Played and Improvised by the participant children
“My Neighbour Tanabata Song” was written for the children of Jendela Ide, by using instruments which they made from materials and sounds they had collected from the neigbourhood.
In Japan, people write their wish on tanzaku during the Festival, as a representation that someday the love star in the sky will make their wish come true when the time has come.
In “My Neighbour Tanabata Song” the childred express their wishes through music improvisation that they played, and at the end of the song will be played the original melody of Tanabata song from Japan, through the instrument made from bamboo.
Presentation Day: Tanabata
Common Room, 7 July 2004
Exhibition 7 –10 July 2004
Event:
- Presentation of Emakimono Workshop and Music Worshop
- Wish-making with Tanzaku on Tanabata Tree
Project Officer:
Reina Wulansari
Tanabata Tree Fasilitator:
Ima Rochmawati
Latar Belakang
Gagasan proyek ini berawal ketika sebuah emakimono ditemukan di perpustakaan Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Reina Wulansari, manager dari organisasi Bandung Center for New Media Arts (BCfNMA), diminta ayahnya untuk menyimpan sebuah kenang-kenangan berupa gulungan kertas pemberian relasi dari Jepang beberapa tahun yang lalu. Karena tidak mengetahui isi dan kegunaannya, kenang-kenanganan yang terlihat indah itu tidak pernah dibuka. Ketika saya dan Junko Suzuki, seniman Jepang yang kebetulan pada waktu itu sedang berada di Bandung membuka gulungan kertas tersebut, barulah kami tahu bahwa benda itu ternyata adalah emakimono yang merupakan replika dari emakimono yang asli. Kami pikir ada baiknya emakimono itu diperkenalkan kepada publik daripada menyimpannya terkunci di perpustakaan. Ketika itu ide saya muncul untuk membuat proyek seni berkerja sama dengan BCfNMA di Common Room. Kami berharap proyek seni ini bisa menjadi salah satu proyek pertukaran kebudayan Jepang dan Indonesia
Tanabata dikenal sebagai acara yang didasari oleh cerita mengenai Raja Kengyu dan Ratu Orihime dan diperingati oleh orang Jepang setiap tahun, tanggal tujuh bulan tujuh. Kami menyebutnya sebagai “Hari di mana harapan diwujudkan”. Pada acara ini kami menuliskan harapan kami di atas tanzaku dan menggantungkannya di pohon bambu yang dihias dengan origami . Tanabata menjadi acara yang menarik dan mudah dimengerti bagi banyak orang dari berbagai bangsa. Saya menyadari bahwa acara Tanabata kurang dikenal di negara lain termasuk di Indonesia, walaupun di Indonesia banyak ditemukan bambu dan banyak orang Indonesia yang menggemari dan mengenal origami. Saya berharap melalui proyek ini, proses pertukaran kebudayaan Jepang dan Indonesia dapat disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang sederhana.
Di Jepang, emakimono merupakan sebuah bentuk animasi yang paling kuno dan menjadi awal mula komik modern yang diceritakan dalam bentuk gambar dengan sistem babak. Menariknya, bentuk yang mirip juga dikenal di Indonesia sebagai wayang beber, wayang tradisional yang sudah langka ditemukan. Dalam beberapa hal memang ada kesamaan tradisi, terutama cara penuturan cerita yang menggunakan gulungan kertas.
Common Room sebagai milkyway komunikasi
Common Room adalah sebuah ruang kolektif yang dikelola secara bersama oleh Bandung Center for New Media Arts dan Klab Baca – Tobucil . Di Tempat ini, berbagai macam kegiatan seperti diskusi, workshop, pameran dan berbagai kegiatan lain diselenggarakan setiap bulannya. Selain itu, Common Room juga memiliki sebuah perpustakaan kecil yang baru saja dibenahi. Melalui berbagai macam kegiatan tersebut, Common Room menjadi semacam jembatan komunikasi bagi bermacam orang dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda. Situasi ini saya pikir tepat untuk memulai proyek tanabata, karena saya menginginkan peroyek ini dapat lebih terbuka untuk masyarakat umu
Tanabata Project Team
Producer
Reina Wulansari
Project Co-ordinator:
Mizuho Matsunaga
Documentation:
Gustaff H. Iskandar
Rani Ravenina
Publication:
Tarlen Handayani
Graphics Designer & MC:
R.E. Hartanto






{ 0 comments… add one now }