<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bandung Center For New Media Arts &#187; Workshop</title>
	<atom:link href="http://bcfnma.commonroom.info/category/projects/workshop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bcfnma.commonroom.info</link>
	<description>http://bcfnma.commonroom.info</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Dec 2008 10:06:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rhizome Project</title>
		<link>http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/</link>
		<comments>http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2004 16:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bcfnma.commonroom.info/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[The British Council Jakarta, ID
2002
In April &#8217;till June 2004, The British Council Jakarta and Bandung Center for New Media Arts organized a workshop and exhibition located at The Library of The British Council Jakarta. Young artists from Bandung and Jakarta were invited to explore and respond the library space for two months working-period. The opening [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The British Council Jakarta, ID<br />
2002</p>
<p>In April &#8217;till June 2004, The British Council Jakarta and Bandung Center for New Media Arts organized a workshop and exhibition located at The Library of The British Council Jakarta. Young artists from Bandung and Jakarta were invited to explore and respond the library space for two months working-period. The opening presented Biosampler, a collective multimedia-performance group from Bandung.<br />
<strong><br />
Participating artists:</strong><br />
Acit<br />
Adi Cumi<br />
Andri Moch.<br />
Anggun Priambodo<br />
Arief Tousiga<br />
Biosampler<br />
Dewi Aditya,<br />
DJ Y<br />
Gustaff H. Iskandar<br />
Hendi Hendarsyah<br />
Hendry Foundation<br />
Indra Ameng<br />
J.D. Avianto<br />
Puji Siswanti<br />
Siti Nazariah </p>

<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_06s/' title='rhizome_06s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_06s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_06s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_05s/' title='rhizome_05s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_05s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_05s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_04s/' title='rhizome_04s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_04s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_04s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_03s/' title='rhizome_03s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_03s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_03s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_02s/' title='rhizome_02s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_02s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_02s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/rhizome_01s/' title='rhizome_01s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/rhizome_01s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="rhizome_01s" /></a>

<p><span id="more-91"></span><br />
4 April 2002 &#8211; Juni 2002<br />
Kerja sama dengan British Council</p>
<p><strong>The Rhizome Project</strong></p>
<p>Rhizome adalah tumbuhan menjalar dengan akar merambat di dalam tanah dan daun menjalar di atas permukaan, dan tidak memiliki pucuk seperti pohon-pohonan, serta tidak bergantung pada akar tunggal. Berasal dari bahasa Yunani, yaitu rhizomat atau rhizoma, rhizome adalah suatu model pertumbuhan umbi-umbian atau tumbuhan merambat, yang tidak bergantung pada akar tunggang, tetapi mampu bertumbuh melalui pelipatgandaan (multiplicity) akar, kombinasi, serta melalui proses deteritorialisasi dan reteritorisalisasi untuk menghasilkan satu aransemen baru, yang dapat dibayangkan sebagai sebuah model pertumbuhan yang tidak terpusat (hirarkis), tetapi memiliki model pertumbuhan yang mandiri, namun sekaligus saling bertaut antar satu dengan yang lainnya.</p>
<p>Sebagai sebuah titik tolak bagi &#8220;studi kasus&#8221;, The Rhizome Project ini akan menitik-beratkan kegiatannya pada pencatatan akan ruang-ruang gagasan dan catatan-catatan yang mungkin muncul di dalam konteks ruang dan waktu yang berkaitan dengan pembicaraan di atas. Proyek ini adalah sebuah tawaran untuk melakukan pendekatan eksplorasi estetik sebagai sebuah medan pilihan, sebagai sebuah rangkaian peristiwa-peristiwa. The Rhizome Project kemudian menjadi bagian dari upaya untuk melakukan pendekatan kekaryaan yang tidak hanya berhenti pada produksi obyek-obyek estetik, tetapi juga melihat ini sebagai sebuah model pendekatan yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah konteks ruang, waktu dan kondisi-kondisi tertentu.</p>
<p>Dalam prosesnya kemudian, The Rhizome Project ini akan memberlakukan konteks ruang, waktu dan kondisi-kondisi yang ada sebagai sebuah wacana, yang memberikan kemungkinan akan tafsir maupun pencarian pembacaan yang memungkinkan munculnya bentukan-bentukan baru bagi pendekatan aktifitas estetika yang ada.</p>
<p><strong>Konteks</strong><br />
Gagasan serta pemikiran bentukan The Rhizome Project ini terutama sekali mempunyai beberapa elemen konteks yang merupakan dasar bagi keberadaan proses redefinisi yang akan dilakukan. Elemen-elemen konteks itu adalah:</p>
<p><strong>Ruang</strong><br />
Sebagai sebuah penanda tempat, gedung The British Council adalah sebuah kumpulan ruang yang telah memiliki identitas ataupun konteks awal berupa ruang-ruang yang telah memiliki latar keberadaan yang sangat jelas. Ruang-ruang di dalam gedung The British Council adalah sebuah penanda tempat yang telah memiliki identitas berupa fungsi dan teritori-nya sendiri. Hal ini tentu saja didasari oleh kepentingan-kepentingan yang ada di seputar keberadaan gedung The British Council. Terkait dengan pembicaraan ini, identitas ataupun konteks awal ini kemudian tercitrakan sebagai sebuah mitos yang masih menyisakan peluang untuk dibaca dan di-definisikan kembali. Dalam kaitan inilah The Rhizome Project kemudian menawarkan peluang pembacaan atas mitos-mitos yang ada di seputar keberadaan Gedung The British Council.</p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
Waktu adalah sebuah entitas yang sama sekali berbeda dengan ruang. Meskipun keduanya adalah sebuah fluida yang dapat mengalir, apabila ruang masih menyisakan kemungkinan kontrol, waktu sepertinya berada di luar kendali kita. Ia senantiasa bergerak maju, dengan percepatan yang juga berada di luar jangkauan kita. Hal inilah yang kemudian mendorong kita untuk menciptakan arti bagi sekuens-sekuens waktu untuk dapat merasakan kehadirannya. Bagaimana proses penciptaan sekuens-sekuens yang ada di dalam konteks ruang dan waktu tertentu sampai saat ini tentu saja masih menyisakan catatan-catatan yang menarik untuk di baca.<br />
<strong><br />
Kondisi/Kejadian/Peristiwa</strong><br />
Pembicaraan mengenai ruang dan waktu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peristiwa-peristiwa di dalamnya. Namun, kemunculan sebuah peristiwa tentu saja sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi awal yang ada di seputar keberadaannya. Hal ini kemudian akan membawa kita pada suatu model pembicaraan yang kompleks, karena masalah ruang, waktu dan kondisi-kondisi yang ada kemudian merupakan kombinasi yang dapat menghasilkan peristiwa-peristiwa ataupun sesuatu yang sama sekali tidak terduga kemungkinan pemunculannya.</p>
<p><strong>Peserta</strong><br />
Peserta yang dipilih adalah seniman-seniman muda yang bekerja dan berdomisili di kota Bandung dan Jakarta. Keunikan konteks asal kediaman dari masing-masing seniman ini berpengaruh saat mereka harus menyikapi keberadaan gedung The British Council yang notabene berdiri di dalam konteks kota Jakarta. Pada prosesnya lebih lanjut, kegiatan ini diharapkan dapat juga diikuti oleh publik secara terbuka.</p>
<p>Adapun seniman-seniman yang tercatat akan mengikuti kegiatan ini adalah:</p>
<p>David Tarigan, Siti Nazariah, Tandun, Adi Cumi, Acit, Yuna, Syagini Ratnawulan, Sat N.B, Dendy Darman, Gustaff H. Iskandar, Dewi Aditya, J.D. Avianto, Arief Tousiga, Hendy Hermansyah, Nishkra, Indra Ameng, Henry Batman, Reza Asung, Albertus Wisnumurti, Andry Moch., Tiarma D. Sirait, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Hasil Akhir</strong><br />
Hasil akhir dari kegiatan ini adalah sebuah Post-Event Catalogue yang tidak hanya merekam berbagai objek kesenian yang ditampilkan dan proses pengerjaan setiap objek-objek kesenian yang ada pada saat event ini terjadi, tetapi juga merekam reaksi dari publik saat berhadapan dengan beragam bentukan kesenian yang terjadi saat itu, serta wacana-wacana ataupun diskursus yang berlangsung, dari artist talk serta diskusi publik. Post Event Catalogue adalah sebuah simpul akhir yang penting bagi keseluruhan kegiatan The Rhizome Project, karena tidak hanya menjadi media perekam, tetapi juga bukan tidak mungkin menjadi media perkembang-biakan dari bentukan kegiatan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bcfnma.commonroom.info/2004/rhizome-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>After The (F)act</title>
		<link>http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/</link>
		<comments>http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Oct 2002 16:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bcfnma.commonroom.info/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Selasar Sunaryo Art Space
Bandung, ID
2002
Selasar Sunaryo Art Space residency in Bandung is a part of Unesco-Aschberg International Fund for The Promotion of Culture program and in the occasion, Carolyn Black, an artist from Bristol, UK, was selected to participate. Doing personal and collaborative project, Carolyn gave lectures and discussions, and eventually made a collective presentation [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasar Sunaryo Art Space<br />
Bandung, ID<br />
2002</p>
<p>Selasar Sunaryo Art Space residency in Bandung is a part of Unesco-Aschberg International Fund for The Promotion of Culture program and in the occasion, Carolyn Black, an artist from Bristol, UK, was selected to participate. Doing personal and collaborative project, Carolyn gave lectures and discussions, and eventually made a collective presentation after three months working period. Bandung Center for New Media Arts participate in the project as a counter-part of Selasar Sunaryo Art Space in giving technical assistant to everyone involved in the project. The final presentation was titled After The (F)act.</p>
<p><strong>Visiting Artist:</strong><br />
Carolyn Black</p>
<p><strong>Assistant:</strong><br />
Prilla Tania</p>
<p><strong>Collaborator:</strong><br />
Ruangrupa, Jakarta (Ade Darmawan, Anggun Priambodo), Biosampler (Sulasmoro, Edi Khemod, Conad, Pumpung Wratmoko, Punjung Wratsongko, Hendy Hertiasa, Niang Joedawinata, Irwan B. Dermawan), Bandung Center for New Media Arts (Gustaff H. Iskandar, R.E. Hartanto, Reina Wulansari).</p>
<p><strong>Related Link:</strong><br />
<a href="Carolyn Black: Residency in Java">Carolyn Black: Residency in Java</a><br />

<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_06s/' title='afterfact_06s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_06s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_06s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_05s/' title='afterfact_05s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_05s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_05s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_04s/' title='afterfact_04s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_04s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_04s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_03s/' title='afterfact_03s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_03s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_03s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_02s/' title='afterfact_02s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_02s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_02s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/afterfact_01s/' title='afterfact_01s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2002/10/afterfact_01s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="afterfact_01s" /></a>
<br />
<span id="more-16"></span><br />
<strong>After the F(act)</strong><br />
International Artist in Residence Program 2002</p>
<p>Penyelenggara: Unesco &#8211; Aschberg Bursaries, Yayasan Kelola, Selasar Sunaryo Art Space, bekerja sama dengan Lawang Art Foundation, Departemen Seni Murni FSRD ITB, Bandung Center for New Media Arts dan Ruangrupa.</p>
<p><strong>Latar Belakang</strong><br />
Program residensi seniman adalah aktivitas di bidang seni budaya yang dilangsungkan dengan cara mengundang seniman dari wilayah geografis yang lain untuk tinggal dan bekartja di suatu lingkungan yang spesifik dalam jangka waktu tertentu. Program ini biasanya dilaksanakan oleh lembaga- lembaga seni budaya seperti galeri, rumah pertunjukan, institusi seni dan lain- lain, yang biasanya dirancang berdasarkan asumsi bahwa kondisi sosial budaya suatu tempat sangat berpengaruh terhadap kreativitas dan proses berkarya seorang seniman.</p>
<p>Saat ini, asumsi tersebut telah mengalami perluasan. Interaksi dengan kelompok sosial baru diharapkan bukan hanya melahirkan karya- karya baru, akan tetapi yang lebih hakiki lagi adalah kesadaran dari pihak- pihak yang berpartisipasi, bukan saja seniman, akan tetapi juga pengelola, kritikus seni, publik, dll dalam memahami dan menghargai keunikan &amp; keberagaman manusia sebagai individu maupun kelompok, yang terwujud dalam cara kerja dan produk budayanya. Selama satu sampai dua dekade terakhir program residensi seniman internasional yang dilangsungkan di berbagai belahan dunia telah berupaya menggalang pemahamansilang budaya antar wilayah/ bangsa.</p>
<p><strong>Visi &amp; Misi</strong><br />
Semenjak awal dekade 90an UNESCO sebagai lembaga PBB yang bergerak di bidang seni budaya, merancang program residensi seniman internasional di beberapa negara di berbagai belahan dunia. Tahun ini Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menjadi salah satu tuan rumah di Indonesia yang dipilih UNESCO untuk menyelenggarakan program tersebut.</p>
<p>Kerjasama SSAS dengan Lawang Art Foundation, Departement Seni Murni ITB, Bandung Center for New Media Arts, berniat mendorong terciptanya infrastruktur senirupa, yang membuka ruang eksplorasi, komunikasi dan jaringan kerja antar seniman di berbagai wilayah.</p>
<p><strong>&#8220;Artist in Residence&#8221;</strong><br />
Carolyn Black, seorang seniman berkebangsaan Inggris, terpilih untuk tinggal dan bekerja di Bandung selama dua bulan, sejak 23 Agustus 2002. Selain dikenal sebagai seniman, Carolyn juga aktif sebagai kritikus dan organizer event seni rupa di Inggris. Tulisan- tulisannya telah diterbitkan oleh beberapa jurnal dan salah satunya mendapatkan penghargaan SWA Critical Writing Award. Saat ini tengah bekerja sebagai project manager sebuah event seni rupa international di Bristol.</p>
<p><strong>Bentuk &amp; Jadwal Kegiatan</strong><br />
Program ini dibagi menjadi beberapa sub kegiatan yang dirancang oleh pengelola program dan seniman terpilih, berdasarkan kebutuhan kedua belah pihak, yakni:</p>
<p>Proyek Personal 3 September &#8211; 3 October 2002<br />
Lecture at ITB 18 September 2002<br />
Workshop 6 &#8211; 17 Oktober 2002<br />
Biosampler, Translingual [Bandung]. Ruangrupa [Jakarta].<br />
Pameran 18 &#8211; 26 Oktober 2002</p>
<p>Di samping itu akan dilakukan beberapa penulisan &amp; publikasi diberbagai media massa, dokumentasi video &amp; photo, artist talk &amp; diskusi, kunjungan ke berbagai organisasi/ institusi seni di Bandung &amp; Yogyakarta serta post event production, yang akan menjadi media publikasi yang disebarkan ke institusi/ jaringan kerja internasional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bcfnma.commonroom.info/2002/after-the-fact/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Signes</title>
		<link>http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/</link>
		<comments>http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 May 2002 16:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bcfnma.commonroom.info/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Soemardja Gallery
Bandung, ID
2002
In May, 2002, Fine Arts Department, Bandung Institute of Technology, in cooperation with Soemardja Gallery, Center Culturel Français Bandung, and Bandung Center for New Media Arts, presented &#8220;Signes&#8221;, a graphic workshop and exhibition. Involving some 30 local artists and art students, Prof. Michele Wlassikoff, conducted the workshop using Internet to exchange the images. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soemardja Gallery<br />
Bandung, ID<br />
2002</p>
<p>In May, 2002, Fine Arts Department, Bandung Institute of Technology, in cooperation with Soemardja Gallery, Center Culturel Français Bandung, and Bandung Center for New Media Arts, presented &#8220;Signes&#8221;, a graphic workshop and exhibition. Involving some 30 local artists and art students, Prof. Michele Wlassikoff, conducted the workshop using Internet to exchange the images. In French, around 20 art students responded and sent back the images to Bandung. Cadavre Exquis (Exquisite Corpse) was a method used in the process.</p>
<p>The project aimed to define psychogeograficism through &#8220;Signes&#8221; (signs) whose own by each country after receiving significant representative influences on an international level.</p>
<p>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_06s/' title='signes_06s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_06s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_06s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_05s/' title='signes_05s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_05s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_05s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_04s/' title='signes_04s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_04s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_04s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_03s/' title='signes_03s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_03s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_03s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_02s/' title='signes_02s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_02s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_02s" /></a>
<a href='http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/signes_01s/' title='signes_01s'><img width="150" height="98" src="http://bcfnma.commonroom.info/wp-content/uploads/2008/12/signes_01s.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="signes_01s" /></a>
<br />
<span id="more-94"></span><br />
<strong>Signes</strong></p>
<p>Bandung Center for New Media Arts bekerja sama dengan Prof. Michel Wlassikof, Departemen Seni Murni ITB, Pusat Kebudayaan Perancis &#8211; Bandung dan Galeri Soemardja ITB, mengadakan Workshop Grafis &#8220;Signes&#8221; pada tanggal 7 Mei hingga 10 Mei 2002. Kegiatan ini akan dilanjutkan tanpa kehadiran Prof. Wlassikoff pada bulan Mei dan akan diakhiri dengan pameran di Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan sebuah proyek kerja sama yang melibatkan peserta dari Indonesia dan Perancis dengan cara presentasi masing-masing peserta dengan mencoba mendefinisikan &#8220;psikogeografisme&#8221; melalui &#8220;signes&#8221; [tanda-tanda] yang dimiliki masing-masing negara setelah mendapat pengaruh representasi pada tingkat dunia.</p>
<p><strong>Teknis</strong><br />
Setiap peserta mempersiapkan 10 gambar mengenai negaranya sendiri dan 10 gambar mengenai negara lainnya. Gambar-gambar tersebut dapat berupa ikon, simbol, gambar bersifat resmi atau karikatural; dapat merupakan karya seni [misalnya La Marseillaise de Rude atau Ready Made de Duschamp, dll.]; dapat berupa pemandangan atau monumen [misalnya Tour Eiffel, Centre Pompidou, Metro, dll.]; dapat juga berupa tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa [misalnya de Gaulle, Mei 68, Tour de France, dll.]; atau bisa juga berupa gambar kaleng produk makanan, poster Mei, formulir pajak, peta transportasi umum, dll. Di sisi lain, input tersebut bisa juga berupa peribahasa atau cuplikan tulisan apapun yang ditulis dengan jenis huruf yang disukai atau gambar apapun.</p>
<p>Seluruh peserta, pada saat workshop berlangsung, akan mengadakan kontak melalui website. Kontak berlangsung sejak hari pertama dengan cara mengirimkan masing-masing gambar, presentasi dari karya yang dibuat, kemudian masing-masing saling berkomunikasi dengan memberikan komentar, usulan, atau lainnya, mengenai gambar-gambar yang dikirimkan. Pada hari berikutnya, pematangan dari gambar-gambar akan mencakup pengambilan kembali gambar-gambar yang telah dikirim atau membuat sesuatu yang baru.</p>
<p>Pada hari terakhir, seluruh peserta akan membuat &#8220;cadavre exquis&#8221;*) dimana masing-masing peserta akan mengirimkan gambar-gambarnya satu persatu secara bergiliran [berselang-selang antara peserta Indonesia dan Perancis] tanpa mengetahui gambar sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian, setelah seluruh gambar dikirimkan, akan terbentuk secara berdampingan gambar para peserta dari kedua negara.</p>
<p><strong>Program</strong></p>
<p>Senin, 22 April 2002.<br />
Peserta dari Perancis sudah mulai membuat gambar sebanyak 20 buah masing-masing 10 mengenai Perancis dan 10 mengenai Indonesia, berdasarkan pikiran masing-masing.</p>
<p>Selasa, 7 Mei 2002.<br />
14.00 WIB. Silaturahmi.<br />
Pertemuan antara Prof. Michel Wlassikoff dengan staff pengajar dan peserta workshop.<br />
Presentasi Prof. Michel Wlassikof mengenai workshop.<br />
19.00 WIB. Pembukaan workshop &#8220;Signes&#8221;.</p>
<p>Rabu, 8 Mei 2002.<br />
09.00 WIB. Peserta Indonesia meneruskan gambar-gambar yang telah dipersiapkan.<br />
14.00 &#8211; selesai. Pengiriman gambar dan presentasi mengenai diri seniman dan gambar yang dibuatnya.<br />
Memberikan tanggapan dan usulan.</p>
<p>Kamis, 9 Mei 2002.<br />
09.00 WIB. Menyelesaikan karya yang dibuat<br />
14.00 WIB. Kontak peserta Indonesia dengan peserta Perancis.</p>
<p>Jumat, 10 Mei 2002.<br />
14.00 WIB. Menyusun &#8220;cadavre exquis&#8221;. Dimulai dengan mengirimkan satu karya peserta Indonesia, kemudian satu karya peserta Perancis, demikian seterusnya secara bergiliran hingga seluruh karya selesai dikirimkan.<br />
16.00 WIB. Diskusi terbuka mengenai workshop dan pameran grafis &#8220;Signes&#8221; untuk publik.</p>
<p><em>*) Mengenai &#8220;Cadavre exquis&#8221; atau &#8220;exquisite corpse&#8221;.</em></p>
<p><strong>1<br />
MS-Encarta<br />
Surrealist Techniques</strong><br />
&#8220;One strategy the surrealists used to elicit imagery from the unconscious is called the “Exquisite Corpse.” In this collaborative art form, a piece of paper was folded in four, and four different artists contributed to the representation of a figure without seeing the other artists&#8217; contributions. The first drew the head, folded the paper over and passed it on to the next, who drew the torso; the third drew the legs, and the fourth, the feet. The artists then unfolded the paper to study and interpret the combined figure.&#8221;</p>
<p><strong>2<br />
Exquisitecorpse.com</strong><br />
<em>&#8220;Among Surrealist techniques exploiting the mystique of accident was a kind of collective collage of words or images called the cadavre exquis (exquisite corpse). Based on an old parlor game, it was played by several people, each of whom would write a phrase on a sheet of paper, fold the paper to conceal part of it, and pass it on to the next player for his contribution.</p>
<p>The technique got its name from results obtained in initial playing, &#8220;Le cadavre exquis boira le vin nouveau&#8221; (The exquisite corpse will drink the young wine). Other examples are: &#8220;The dormitory of friable little girls puts the odious box right&#8221; and &#8220;The Senegal oyster will eat the tricolor bread.&#8221; These poetic fragments were felt to reveal what Nicolas Calas characterized as the &#8220;unconscious reality in the personality of the group&#8221; resulting from a process of what Ernst called &#8220;mental contagion.&#8221; </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bcfnma.commonroom.info/2002/signes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
